KUBU RAYA —2-September-2026-Tajuk tajam new.com
Mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak cukup menunggu api muncul. Kewaspadaan sejak dini, kemampuan mengenali potensi kebakaran, serta kecepatan melaporkan titik api menjadi kunci agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.
Pesan tersebut disampaikan Perwira Siswa Pendidikan Reguler (Pasis Dikreg) Seskoal Angkatan ke-66 Tahun Anggaran 2026 saat memberikan edukasi kepada masyarakat di Kantor Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelibatan tim gabungan yang diterjunkan Markas Besar (Mabes) TNI dalam mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla di wilayah Kalimantan Barat.
Tim gabungan tersebut dipimpin Brigjen TNI Elman Nawendro, M.Sc., dengan melibatkan Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66.
Bukan Sekadar Penyuluhan, Warga Diajak Jadi Garda Terdepan
Penyuluhan berlangsung secara dialogis dan interaktif.
Masyarakat tidak hanya diberikan pemahaman mengenai bahaya karhutla, tetapi juga diajak mengenali langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran di lingkungan masing-masing.
Materi disampaikan oleh Mayor Marinir Arie Mahendra Bimasakti dan Mayor Laut (KH) M. C. Bayu Murti, M.Psi., Psikolog.
Pembahasan meliputi konsep dasar terjadinya api melalui segitiga api, faktor penyebab kebakaran, dampak karhutla, hingga langkah pencegahan, penanganan, dan mitigasi.
Konsep segitiga api yang terdiri atas bahan bakar, sumber panas, dan oksigen menjadi salah satu materi penting yang diberikan kepada masyarakat.
Pemahaman tersebut diharapkan membantu warga mengenali kondisi yang dapat memicu munculnya api sekaligus mengambil langkah pencegahan sejak awal.
Karhutla sendiri tidak hanya berdampak terhadap kawasan hutan dan lahan.
Asap yang ditimbulkan dapat mengganggu kesehatan masyarakat, mobilitas, transportasi, kegiatan ekonomi hingga aktivitas sosial.
Karena itu, pencegahan harus dilakukan secara bersama dengan menempatkan masyarakat sebagai salah satu unsur penting dalam sistem kewaspadaan di tingkat lingkungan.
Warga didorong menjadi agen perubahan dengan meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga, tetangga, serta komunitas di sekitarnya.
Masyarakat juga dapat berperan melalui pengawasan lingkungan, mengenali kondisi yang berpotensi memicu kebakaran, dan segera menyampaikan laporan apabila menemukan indikasi titik api.
“Cegah Sebelum Terbakar, Deteksi Dini, Lapor Cepat”
Pesan utama kegiatan dirangkum dalam pendekatan:
“Cegah Sebelum Terbakar, Deteksi Dini, Lapor Cepat, dan Tangani Secara Terpadu.”
Pendekatan tersebut menegaskan pentingnya kecepatan bertindak. Setiap potensi kebakaran yang ditemukan sedini mungkin memiliki peluang lebih besar untuk dikendalikan sebelum api meluas.
Edukasi juga diarahkan pada perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan lahan.
Warga diharapkan semakin memahami risiko pembakaran lahan dan memilih metode pengelolaan yang lebih aman sehingga tidak menimbulkan potensi penyebaran api.
Kegiatan tersebut turut didampingi Dosen Seskoal yang bertindak sebagai Perwira Pendamping Kelompok Penyuluhan, yakni Kolonel Marinir Widarta Kusuma, S.E., M.Tr.Opsla., dan Letkol Laut (P) Dany Wira Nugraha, S.T., M.Tr.Opsla.
Edukasi Disertai Aksi Sosial
Kehadiran Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66 di Kubu Raya tidak hanya diisi dengan kegiatan edukasi.
Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan aksi sosial berupa penyaluran bantuan sosial dari Komandan Seskoal, Laksamana Muda (Laksda) TNI Ariantyo Condrowibowo, kepada masyarakat di wilayah Kubu Raya.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari kepedulian TNI AL terhadap masyarakat sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan antara prajurit dan warga.
Kehadiran Pasis Seskoal di tengah masyarakat pun diharapkan tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan, tetapi mampu menghadirkan manfaat dan kepedulian melalui aksi nyata.
Bagi para Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan sekaligus melihat secara langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.
Edukasi karhutla menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana lingkungan.
Mencegah Api Dimulai dari Kesadaran
Pencegahan karhutla pada akhirnya bukan pekerjaan satu pihak.
Pemerintah, TNI, aparat terkait, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari pencegahan, pemantauan, pelaporan hingga penanganan ketika kebakaran terjadi.
Melalui kegiatan tersebut, Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66 mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan serta menghindari tindakan yang berpotensi memicu kebakaran.
Masyarakat diharapkan menjadi mata dan telinga di wilayahnya masing-masing.
Sebab, semakin cepat potensi kebakaran diketahui dan dilaporkan, semakin besar peluang api dikendalikan sebelum berubah menjadi bencana.
Kegiatan edukasi dan aksi sosial tersebut sekaligus memperkuat komitmen TNI AL dalam membangun sinergi dengan masyarakat menghadapi berbagai persoalan di wilayah, termasuk ancaman karhutla.
Sebab, pencegahan bukan dimulai ketika api sudah membesar. Pencegahan dimulai jauh sebelumnya—ketika kesadaran tumbuh, lingkungan diawasi, dan setiap potensi bahaya ditangani sebelum menjadi bencana

