KUBU RAYA — 1-September-2026-Tajuk tajam new.com
Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus dimulai jauh sebelum api berkobar.
Kesadaran masyarakat, deteksi dini, pelaporan cepat, serta penanganan terpadu menjadi kunci untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana yang lebih luas.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan edukasi pencegahan karhutla yang melibatkan Perwira Siswa Pendidikan Reguler (Pasis Dikreg) Seskoal Angkatan ke-66 Tahun Anggaran 2026 di Kantor Balai Desa Teluk Kapuas, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari keterlibatan tim gabungan yang diterjunkan Markas Besar (Mabes) TNI untuk mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla.
Tim tersebut dipimpin Brigjen TNI Suwadi, S.E., M.M., dengan melibatkan Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66.
Edukasi dikemas secara interaktif sehingga masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memahami langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menghadapi potensi karhutla di lingkungan masing-masing.
Dalam sesi diskusi, Mayor Laut (KH) M. C. Bayu Murti, M.Psi., Psikolog dan Mayor Laut (K) drg. Nur Ali, Sp.BM tampil sebagai narasumber.
Materi yang disampaikan mencakup konsep segitiga api, faktor penyebab kebakaran, dampak karhutla, hingga langkah penanganan dan mitigasi.
Salah satu materi penting yang diperkenalkan kepada masyarakat adalah konsep segitiga api, yakni keterkaitan antara bahan bakar, sumber panas, dan oksigen.
Pemahaman sederhana tersebut diharapkan membantu warga mengenali faktor yang dapat memicu kebakaran sekaligus mengambil langkah pencegahan sejak dini.
Karhutla bukan hanya persoalan kerusakan lingkungan.
Asap yang ditimbulkan dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, mengganggu aktivitas transportasi, menghambat kegiatan ekonomi, serta memengaruhi berbagai aktivitas sosial.
Karena itu, pencegahan tidak dapat hanya mengandalkan aparat maupun pemerintah.
Masyarakat yang berada langsung di sekitar wilayah rawan memiliki posisi penting dalam melakukan pengawasan lingkungan, mengenali potensi kebakaran, serta melaporkan dengan cepat apabila menemukan indikasi munculnya titik api.
Melalui prinsip “Cegah Sebelum Terbakar,
Deteksi Dini,
Lapor Cepat,
Dan Tangani Secara Terpadu”,
Masyarakat didorong menjadi bagian aktif dalam upaya pencegahan karhutla.
Edukasi tersebut juga diarahkan untuk membangun perubahan perilaku.
Warga diharapkan tidak berhenti sebagai penerima informasi, tetapi mampu menjadi agen perubahan (agent of change) dengan meneruskan pengetahuan tentang pencegahan karhutla kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
Kesadaran kolektif menjadi semakin penting karena karhutla merupakan persoalan yang membutuhkan sinergi lintas sektor.
Perubahan perilaku dalam pengelolaan lahan, kepedulian terhadap lingkungan, serta kesiapsiagaan menghadapi musim kering menjadi bagian penting dari mitigasi.
Edukasi Disertai Aksi Sosial
Selain memberikan edukasi, kegiatan Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66 juga diisi dengan aksi sosial berupa penyaluran bantuan sosial dari Komandan Seskoal, Laksamana Muda (Laksda) TNI Ariantyo Condrowibowo.
Bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian dan perhatian TNI AL kepada masyarakat Kubu Raya sekaligus memperkuat komunikasi dan kedekatan antara prajurit TNI AL dengan masyarakat.
Bagi Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengimplementasikan pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh selama pendidikan dalam konteks pengabdian kepada masyarakat.
Terlebih, persoalan karhutla membutuhkan kemampuan koordinasi, kepemimpinan, kesiapsiagaan, serta keterlibatan berbagai komponen bangsa.
Sinergi antara TNI, pemerintah dan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi ancaman karhutla. Peran TNI tidak hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga dapat diperkuat melalui upaya membangun kesadaran, edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat sebelum bencana terjadi.
Melalui edukasi yang disertai aksi nyata tersebut, Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66 mendorong masyarakat Kubu Raya untuk memandang pencegahan karhutla sebagai tanggung jawab bersama.
Sebab, perang melawan karhutla tidak seharusnya dimulai ketika asap sudah mengepul.
Pencegahan harus dimulai dari kesadaran, deteksi harus dilakukan sejak dini, laporan harus disampaikan dengan cepat, dan penanganan harus dilakukan secara terpadu.
Dari desa, kesadaran itu dibangun.
Dari masyarakat, kepedulian itu digerakkan.
Dan dari sinergi seluruh komponen bangsa, lingkungan serta keselamatan masyarakat dapat bersama-sama dijaga

