Gedung Puskesmas Megah, Tenaga Perawat Minim: Pelayanan Kesehatan Terancam Tidak Optimal
Pontianak Utara – Pembangunan gedung Puskesmas yang representatif dinilai mampu meningkatkan semangat kerja petugas kesehatan sekaligus mendorong minat masyarakat untuk berobat.
Namun di balik pembangunan fisik tersebut, muncul persoalan serius yang berpotensi menghambat kualitas pelayanan kesehatan, yakni minimnya tenaga perawat dan bidan.
Hasil penelusuran media di salah satu Puskesmas wilayah Pontianak Utara menemukan bahwa jumlah tenaga kesehatan tidak sebanding dengan beban pelayanan yang harus ditanggung.
Dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 38.000 jiwa dan angka kunjungan pasien yang bisa mencapai 150 orang per hari, Puskesmas tersebut hanya ditopang oleh tiga orang perawat dan empat bidan, jumlah yang dinilai jauh dari ideal.
“Pembangunan gedung memang bagus dan sangat mendukung semangat kerja petugas serta meningkatkan animo masyarakat untuk berobat. Tapi gedung yang bagus harus diimbangi dengan kecukupan tenaga kesehatan. Saat ini perawat kami sangat kurang,” ujar salah satu narasumber tenaga kesehatan kepada media.
Menurut narasumber, standar minimal pelayanan di Puskesmas perkotaan seharusnya memiliki lebih dari enam bidan dan minimal delapan perawat.
Kondisi yang ada saat ini dinilai hanya memenuhi batas paling minimum, bahkan cenderung di bawah standar pelayanan yang layak.
“Untuk bidan saja, empat orang itu sudah batas paling minimal. Apalagi di wilayah perkotaan seperti ini. Sementara perawat hanya tiga orang, padahal peran perawat sangat vital dalam pelayanan sehari-hari,” tegasnya.
Ironisnya, di tengah keterbatasan tenaga tersebut, Puskesmas ini juga menjadi rujukan layanan TCM (Tes Cepat Molekuler) satu-satunya di wilayah Pontianak Utara yang berlokasi di Siantan Tengah. Layanan ini menangani pemeriksaan penyakit serius seperti TBC, termasuk mendeteksi apakah kuman TBC resisten terhadap obat tertentu.
“Kalau TBC itu harus dipastikan apakah kumannya kebal terhadap obat atau tidak. Kalau resisten, maka harus ada treatment khusus. Beban layanan ini cukup besar karena melayani beberapa Puskesmas di wilayah utara,” jelas narasumber.
Minimnya tenaga perawat dikhawatirkan berdampak langsung pada kualitas pelayanan, waktu tunggu pasien, hingga tingkat kepuasan masyarakat. Padahal, tren penyakit masyarakat saat ini menunjukkan peningkatan kasus penyakit degeneratif seperti diabetes yang membutuhkan pelayanan kesehatan cepat dan berkesinambungan.
Media menilai, pembangunan sarana fisik tanpa diikuti pemenuhan sumber daya manusia hanya akan melahirkan puskesmas megah tapi pincang secara pelayanan. Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius Pemerintah Daerah dan Dinas Kesehatan agar tidak terjadi ketimpangan antara infrastruktur dan kualitas layanan.
“Yang paling mendesak saat ini bukan hanya bangunan, tapi penambahan tenaga perawat dan bidan. Tanpa itu, pelayanan tidak akan maksimal, meskipun gedungnya baru dan bagus,” pungkas narasumber.
Media mendorong agar instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap distribusi tenaga kesehatan, khususnya di wilayah dengan beban pelayanan tinggi, demi menjamin hak masyarakat atas pelayanan kesehatan yang layak dan bermutu.
Media tajuk tajam new selalu membuka ruang klarifikasi pemberitaan dan sanggahan atas pemberitaan ini

