Tajuktajamnews.com,PANGKALPINANG — Sidang lanjutan perkara dr Ratna Setia Asih semakin mengerucut pada satu kesimpulan penting: dalam kasus medis kompleks seperti AV blok, membebankan tanggung jawab hanya kepada satu dokter dinilai tidak tepat.
Dalam persidangan yang berlangsung di ruang Tirta Pengadilan Negeri Pangkalpinang, Kamis (23/4/2026), dua saksi ahli mengungkap bahwa kasus ini tidak semata menyangkut tindakan individu, melainkan juga menyangkut keterbatasan sistem layanan kesehatan.
Saksi ahli Pediatric Intensive Care Unit (PICU), dr Yogi Prawira, Sp.A, menegaskan bahwa penanganan pasien merupakan kerja kolektif dalam satu ekosistem, yang melibatkan tenaga medis, manajemen rumah sakit, hingga sistem pembiayaan dan rujukan berjenjang.
“Tidak bisa satu kasus dibebankan pada satu orang. Ini sistem yang saling terkait,” ujarnya di persidangan.
Fakta yang terungkap menunjukkan adanya kesenjangan antara standar ideal medis dan kondisi riil di lapangan. Dalam kasus AV blok, tindakan definitif yang diperlukan adalah pemasangan pacemaker jantung. Namun, tanpa alat tersebut, penanganan yang dapat dilakukan hanya bersifat sementara untuk menjaga kondisi pasien tetap stabil.
Kondisi ini menjadi kendala karena rumah sakit tipe C tidak memiliki fasilitas pemasangan pacemaker.
Para ahli menilai, tindakan yang dilakukan dr Ratna hingga tahap penanganan di PICU sudah sesuai dengan prosedur awal dalam kondisi keterbatasan. Penanganan tidak terhenti karena kelalaian, melainkan karena keterbatasan alat dan kewenangan.
Persidangan ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa setiap hasil buruk dalam pelayanan medis selalu disebabkan oleh kesalahan individu. Sebaliknya, faktor sistem seperti kesiapan fasilitas, mekanisme rujukan, dan ketersediaan alat medis menjadi elemen penting yang memengaruhi hasil akhir.
Dalam konteks tersebut, AV blok tidak hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga mencerminkan tantangan dalam sistem layanan kesehatan. Keterbatasan fasilitas di rumah sakit tingkat menengah membuat ruang gerak tenaga medis menjadi terbatas dan meningkatkan risiko bagi pasien.
Sidang ini menegaskan bahwa penilaian terhadap tindakan medis harus mempertimbangkan konteks sistem secara menyeluruh. Mengabaikan faktor tersebut berpotensi menimbulkan penilaian yang tidak adil.
Pada akhirnya, tenaga medis di garis depan hanya dapat bekerja sesuai dengan kemampuan sistem yang tersedia. Ketika sistem memiliki keterbatasan, maka risiko dan tantangan dalam penanganan pasien pun tidak dapat dihindari.
(KBO Babel)
Editor : DM

